Penulis : Suhendi
KotaSantri.com : Nabi Muhammad SAW pernah memanggil putrinya, Fatimah. Kemudian ia bertanya, "Fatimah, apakah engkau ingin jadi seorang perempuan yang baik akhlaknya dan jadi istri yang sangat disayangi oleh suami?"
"Tentu saja." Jawab Fatimah.
"Baiklah, tak jauh dari sini, ada seorang perempuan yang baik akhlaknya. Namanya, Siti Muthi'ah. Segeralah temui dia, teladani akhlaknya yang baik!" Kata Nabi SAW.
Saat itu juga, Fatimah segera pergi ke tempat tinggal Siti Muthi'ah sambil membawa Hasan yang pada waktu itu masih kecil. Fatimah merasa sangat penasaran, amalan apa yang dilakukan oleh Siti Muthi'ah sampai-sampai ayahnya memuji tingkah lakunya.
Ketika baru sampai di depan rumahnya, Siti Muthi'ah sangat bergembira, karena ia tahu, Fatimah merupakan putri Nabi Muhammad SAW. "Bahagia sekali saya kedatangan engkau, namun mohon maaf, saya tidak bisa membahagiakan engkau. Sekali lagi mohon maaf, semoga tidak salah paham, sebab saya sudah diamanahi oleh suami untuk tak menerima tamu laki-laki," Kata Muthi'ah sambil menatap pada Hasan.
"Ini Hasan, anak saya. Dan apalagi, bukankah Hasan masih kecil." Kata Fatimah sambil imut.
"Meskipun seperti itu, mohon maaf, saya tidak mau mengecewakan suami. Meskipun Hasan masih kecil, tapi ia seorang laki-laki." Jawab Muthi'ah, yang prinsipnya tidak bisa diubah-ubah lagi.
Fatimah mulai merasakan keutamaan Siti Muthi'ah. Ia semakin kagum serta ingin mendalami lebih dalam lagi akhlak Muthi'ah. Karena itu, Hasan dikembalikan terlebih dahulu. Setelah itu, Fatimah kembali ke rumah Muthi'ah.
"Saya merasa kaget, perasaan saya tidak menentu, bahkan grogi. Apa sebetulnya yang mendorong engkau datang menemui saya?" Kata Muthi'ah setelah membahagiakan Fatimah dengan ramah.
"Ayah saya yang memerintahkan saya untuk pergi ke sini. Kata ayah saya, engkau merupakan wanita yang mempunyai akhlak yang baik, karena itu saya datang ke sini untuk belajar dari engkau." Kata Fatimah.
Mendengar cerita Fatimah, tentu saja Muthi'ah merasa bahagia, tapi Muthi'ah masih merasa heran. "Engkau pasti bercanda ya? Saya pribadi, seorang wanita yang tidak punya keistimewaan apa-apa." Jawabnya.
Fatimah semakin yakin berkenaan dengan keutamaan Muthi'ah. Tanpa disengaja, Fatimah melihat kain kecil, kipas, dan rotan dalam ruangan tersebut. "Muthi'ah untuk apa barang-barang tersebut? Tanya Fatimah.
Siti Muthi'ah tersenyum, menyembunyikan rasa malu. Sebelumnya Muthi'ah tidak akan berterus terang, tapi Fatimah terus mendesak, bertanya mengenai hal itu. Sehingga Muthi'ah harus mengatakan yang sebenarnya.
"Ya Muthi'ah, begitu mulia tingkah laku engkau. Selanjutnya, untuk apa rotan itu? Tanya Fatimah sambil melihat rotan.
"Rotan itu sengaja disediakan. Apabila suami saya bangun tidur, kemudian mandi, saya juga suka menghias diri dan kemudian menyediakan makanan. Setelah semunya siap, saya berkata seperti ini pada suami, Ya suamiku sayang. Apabila pelayanan saya sebagai seorang istri, serta makanan yang disediakan tidak sesuai dengan keinginanmu, saya ikhlas menerima hukuman. Silahkan rotan itu pukulkan pada saya, serta sebutkan apa saja kesalahan saya supaya tidak dilakukan lagi." Kata Muthi'ah.
"Apakah engkau sering dipukuli rotan oleh suamimu?" Tanya Fatimah.
"Belum pernah sekalipun. Bukan rotan yang dibawanya, tapi suami saya malah memeluk saya dengan penuh kasih dan sayang. Ini merupakan kebahagiaan saya dengan suami yang dirasakan oleh kami setiap pagi." Jawab Muthi'ah.
***
Menjaga kesucian diri sebagai amanah dalam kapasitasnya sebagai seorang suami atau istri merupakan suatu keharusan. Menjaga kesucian diri bagi seorang suami atau istri bisa merupakan bentuk tanda cinta antara keduanya.
Suami istri harus bekerjasama satu sama lainnya. Laki-laki diibaratkan sebagai pakaian bagi perempuan, dan begitu pula sebaliknya (QS. Al-Baqarah : 187). Meskipun dalam kehidupan rumah tangga, masing-masing mempunyai peran tersendiri dan tanggung jawab berbeda (QS. Al-Baqarah :
228).
Namun, kecintaan pada istri atau suami, dan anak, jangan berlebihan. Jangan sampai kecintaan pada keduanya melalaikan kita untuk mengingat Allah. Dalam hal ini, anak, istri atau suami bisa menjadi musuh (QS. At-Taghaabun : 14). Kecintaan kita pada keluarga merupakan bentuk kecintaan kita pada Allah SWT. Islam mengatur mengenai berbagai hal, termasuk soal ini. Aturan itu tak hanya merupakan sebuah keharusan yang tentunya wajib untuk dilaksanakan, melainkan aturan Allah SWT yang punya dampak positif dan nilai manfaat bagi yang melaksanakannnya.
Betapa tidak, keharmonisan hubungan suami istri akan terjalin dengan baik karena masing-masing dapat melaksanakan amanah sebagaimana mestinya, apakah ia sebagai seorang suami atau istri.
Diakui memang, krisis kepercayaan antara suami istri kerap terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Termasuk dalam kehidupan rumah tangga Muslim. Akibatnya, percekcokan dalam rumah tangga tidak bisa dielakan lagi. Tak hanya harmonisasi hubungan suami istri yang mahal didapat, dampak lain pun akan timbul dengan sendirinya. Misalnya, anak bisa jadi korban. Anak tidak akan nyaman dan betah tinggal di rumah. Anak akan mencari tempat yang 'aman' yang membuatnya bisa untuk curhat, melepas beban masalah yang dihadapinya.
Masyarakat merupakan himpunan beberapa keluarga. Baik buruknya masyarakat tergantung keluarga. Keluarga yang baik, maka akan melahirkan masyarakat sejahtera. Kelurga yang amburadul, melahirkan masyarakat yang hancur.
Sementara keluarga yang harmonis, tanda individu-individu yang baik. Masyarakat yang damai akan melahirkan Negara yang kokoh dan sejahtera.
Setiap orang pasti mendambakan kehidupan rumah tangganya harmonis. Siapa pun ia. Harmonis bukan berarti bebas dari masalah. Rumah tangga yang mawaddah wa rahmah bukan berarti rumah tangga yang tidak pernah diterpa badai. Tapi, rumah tangga yang apabila diterpa sebuah masalah, mampu menyikapinya dengan cara yang tepat. Sehingga setiap masalah mampu dihadapinya dengan cara yang terbaik.
Alhasil, solusi yang selama ini diharapkan pun akan mudah diperoleh. Kalaupun terjadi sedikit percekcokan, ini menjadi bumbu rumah tangga yang membuat hidup rumah tangga semakin manis dan romantis. Rumah tangga seorang muslim, idealnya mampu menjadi suri tauladan yang baik bagi keluarga lainnya. Betapa tidak, aturan untuk itu sudah ada. Tinggal ada keinginan untuk mau mengaplikasikannya. Kehidupan kelurga muslim jangan sampai jadi bahan perbincangan yang tak mengenakan bagi keluarga lainnya. Semoga!
Wallahu a'lam bishawab.
No comments:
Post a Comment