11.03.2008

Ketika Ibu Tidak Diutamakan

Penulis : Abu Luthfi Ar-Rasyid

KotaSantri.com : Dari Anas bin Malik RA, dia berkata : Ada seorang pemuda pada zaman Rasulullah SAW yang bernama Al-Qamah, yang rajin beribadah dan banyak mengeluarkan shadaqah. Suatu ketika, dia sakit keras. Lalu istrinya mengutus seseorang untuk menemui Rasulullah SAW menyampaikan pesan bahwa suaminya berada diambang maut. Lalu beliau bersabda kepada Bilal dan sekumpulan sahabat, "Pergi dan temuilah Al-Qamah!"

Mereka pun pergi ke tempat Al-Qamah lalu berkata kepadanya, "Ucapkanlah kepadanya, la ilaha illallaah!" Namun Al-Qamah tidak mampu mengucapkannya. Mereka yakin bahwa Al-Qamah sudah meninggal. Maka mereka mengabarkan keadannya kepada Rasulullah SAW.

"Apakah dia mempunyai dua orangtua?" tanya beliau.

Ada yang menjawab, "Ayahnya sudah meninggal, sementara Ibunya sudah lanjut usia."

"Wahai Bilal, temuilah ibu Al-Qamah dan sampaikan salamku kepadanya," sabda beliau, "Katakan pula padanya bahwa diriku menjadi tebusan atas diri anaknya. Aku lebih berhak untuk menolongnya."

Beberapa saat kemudian ibu Al-Qamah mengambil tongkat lalu dia masuk ke tempat Rasulullah SAW. Beliau bersabda, "Berkatalah yang jujur kepadaku. Jika engkau dusta kepadaku, tentu akan turun wahyu dari Allah kepadaku. Bagaimana keadaan Al-Qamah yang sebenarnya?"

Ibu Al-Qamah menjawab, "Wahai Rasulullah, dia biasa mendirikan shalat begini dan berpuasa begini, juga biasa mengeluarkan shadaqah sejumlah dirham yang dia sendiri tidak tahu berapa timbangannya dan berapa jumlahnya."

"Bagaimana keadaanmu dengannya?" tanya beliau.

"Aku sangat marah kepadanya," jawabnya.

"Mengapa begitu?" tanya beliau.

"Dia lebih mementingkan istrinya daripada aku, lebih suka menaatinya, dan mendurhakaiku," jawabnya.

Beliau bersabda, "Rupanya kemarahan ibunya membuatnya tidak mampu mengucapkan la ilaha illallah."

Kemudian beliau berkata kepada Bilal, "Pergilah dan kumpulkan kayu bakar yang banyak, karena aku akan membakar Al-Qamah dengan kobaran kayu bakar itu."

Ibu Al-Qamah berkata, "Wahai Rasulullah, engkau akan membakar anakku, buah hatiku di depan mataku?"

Beliau bersabda, "Wahai Ibu Al-Qamah, adzab Allah lebih pedih lagi. Jika engkau ingin agar Allah mengampuni dosanya, maka ridhakanlah dia untuk dibakar. Demi yang diriku ada di tanganNya, shalat dan shadaqahnya tidak bermanfaat baginya selagi engkau masih marah kepadanya."

Ibu Al-Qamah mengangkat tangan dan berkata, "Wahai Rasulullah, aku bersaksi kepada Allah di langitNya dan kepada engkau, wahai Rasulullah, serta siapa pun yang hadir di sini, bahwa aku telah ridha terhadap Al-Qamah."

Lalu Bilal pergi ke tempat Al-Qamah, dan dia mendapatkannya sedang mengucapkan la ilaha illallaah. Pada hari itu pula dia meninggal dunia. Lalu beliau memerintahkan untuk memandikan dan mengkafaninya, lalu menshalatinya. Kemudian beliau berdiri di bibir kuburan dan bersabda, "Wahai semua orang Muhajirin dan Anshar, siapa yang lebih mementingkan istrinya daripada ibunya, maka dia mendapat laknat Allah, dan Allah tidak menerima ibadahnya yang wajib maupun yang sunnah."

***

Saat ini, banyak anak lelaki yang lebih mementingkan istrinya daripada ibunya. Mereka lebih memilih hidup enak bersama istri, sementara ibu hidup seadanya. Bahkan, ada yang sampai menelantarkan orangtua dengan memasukannya ke panti jompo. Na'udzubillaah jika kita sampai mengalami hal seperti yang terjadi pada Al-Qamah.

Referensi : Hadiyyatul-Ikhwan fi Fadhli Lailati Nishfi Sya'ban, Ibnu Ibrahim Al-Iman.

No comments:

Fatimatuzzahra Azka Ghulwani

Fatimatuzzahra Azka Ghulwani
iiih anak ummi.... lucunya....