11.10.2008

Kepercayaan VS Keyakinan


3 Nopember 2008 » Pelangi

Penulis : Ita Fitriah Syairi

Majelis Ta’aruf Klab Santri : Ya ALLAH, tunjukilah pada kami yang baik itu tampak baik dan berilah kami kemampuan untuk melaksanakannya. Dan tunjukilah pada kami yang buruk itu tampak buruk dan berilah kami kemampuan untuk menjauhkannya. Aamiin.

Pernikahan kami sudah di depan mata. Alhamdulillah persiapannya pun sudah hampir 50%. Kendala selama ini memang ada, tetapi masih dalam batas yang sangat normal. Sampai ujian yang lain pun datang, karena mungkin Allah ingin membimbing kami yang masih bodoh, egois, pemarah, sombong, dan masih banyak lagi sifat kami yang belum baik sebagai pemberi tauladan nantinya.

Suatu ketika, dari pihak laki-laki memberitahukan untuk memohon pengertian dari pihak perempuan untuk bisa merubah kesepakatan hari dan tanggal yang sudah kedua belah pihak sepakati dengan alasan ternyata menurut kepercayaan mereka tanggal itu tidaklah baik untuk dilangsungkannya pernikahan.

Kronologis penentuan tanggal pun sebenarnya pihak laki-laki menyerahkan kepada pihak perempuan, tetapi kemudian pihak laki-laki mengajukan suatu tanggal kepada pihak perempuan bahwa berdasarkan perhitungan dan konsultasi pihak laki-laki bahwa tanggal X adalah tanggal yang terbaik (masih pada bulan haji, bukan hari kelahiran calon suamiku, bukan hari wafatnya ayah calon suamiku, dan juga bukan hari wafatnya ibuku).

Hal ini cukup mendapatkan perhatian khusus dari keluargaku, bukan hal yang mudah karena kami mempunyai keyakinan semua hari dalam Islam itu baik. Menikah itu tidaklah sulit, jangan pula dipersulit. Kami menjadi bingung dan ada perasaan seperti kurang dihormati oleh pihak laki-laki.

Alhamdulillah, kami dari pihak perempuan akhirnya mengalah. Kami menikah (akad) seminggu sebelum resepsi, karena ternyata dari pihak katering tidak bisa merubah hari yang telah ditentukan. Kerepotan dan biaya yang kami keluarkan juga menjadi bertambah. Inilah pelajaran yang kuterima dari perjalananku yang ingin membina rumah tangga baru.

Aku di keluargaku sangat diterima baik atas apapun yang terjadi. Kami memang bukan orang kaya dan sudah tidak mempunyai Ibu lagi, tapi kami punya banyak saudara yang selalu mau mendengar kesulitan apalagi kebahagiaan dari saudara-saudaranya. Namun, calon suamiku mendapatkan perlakuan yang sangat berbeda denganku.

Kepercayaan dia dengan keluarganya berbeda, dan dia cukup dikucilkan dari keluarganya sendiri. Calon suamiku mendapatkan perbedaan kasih sayang dan perhatian dari orangtua yang sangat jelas, baik sebelum apalagi sesudah peristiwa itu. Bahkan dari pihak laki-laki pun mengancam untuk tidak mau datang jika dia tidak berhasil merubah tanggal yang sudah ditentukan.

Allah… Semoga usahaku untuk bisa menjadi istri yang baik dan usaha calon suamiku untuk menjadi suami yang baik sudah mulai terproses dan selalu mendapatkan RidhaMU.

Terima kasih untuk seluruh perhatian, pengorbanan psikis dan materil, keikhlasan untuk mengalah, kesabaran, dan lain-lain yang telah seluruh saudaraku lakukan. Semoga Allah selalu menjaga semua yang sudah baik yang kita miliki dan membimbing untuk bisa lebih baik lagi dalam berbuat dan berkata-kata.

No comments:

Fatimatuzzahra Azka Ghulwani

Fatimatuzzahra Azka Ghulwani
iiih anak ummi.... lucunya....